Sunday, March 23, 2008

Setiap Jam 2 Orang Ibu Bersalin Meninggal Dunia

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia karena berbagai sebab. Demikian pula angka kematian bayi (AKB), khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih berada pada kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup.

Menyadari kondisi tersebut, Departemen Kesehatan pada tahun 2000 telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) jangka panjang upaya penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir. Dalam Renstra ini difokuskan pada kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk menjamin pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang dikenal dengan sebutan "Making Pregnancy Safer (MPS)" melalui tiga pesan kunci. Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi pada pembukaan Seminar Pendekatan dan Praktik Terbaik Kesehatan Maternal dan Neonatal di Jakarta tanggal 10 Mei 2004. Lebih lanjut ditegaskan, tiga pesan kunci MPS itu adalah setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari pelaksanaan MPS, target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi baru lahir menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup. Dalam kerangka inilah Departemen Kesehatan bersama Program Maternal & Neonatal Health (MNH) sejak tahun 1999 mengembangkan berbagai pendekatan baru yang didasarkan pada praktek-praktek terbaik (best practices) yang diakui dunia untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir di beberapa daerah intervensi di Indonesia. Untuk mencapai hal itu, masih diperlukan waktu kendati Depkes sudah menempatkan bidan di desa. AKI dan AKB di Indonesia itu beragam, ada kabupaten yang sudah bagus tetapi juga ada yang masih jauh dari harapan tergantung dengan kondisi geografisnya, tingkat kemiskinannya, daerah konflik dan sebagainya. Dengan sendirinya di daerah yang sulit seperti Papua, NTT, maka AKI dan AKB-nya masih tinggi. Demikian pula di Jawa, ada daerah-daerah kantong yang AKB dan AKI-nya masih tinggi. Pendekatan baru ini tidak semata-mata hanya berupa kegiatan-kegiatan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (supply) tetapi juga mencakup kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan tuntutan (demand) masyarakat. Selama lebih 4 tahun pendekatan baru ini dipraktikkan secara konsisten dan terus menerus diperbaiki mengikuti perkembangan global dan dinamika masyarakat setempat yang pada akhirnya menghasilkan pencapaian-pencapaian yang menggembirakan. Menurut Menkes, pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ibu pada prinsipnya memiliki peran ganda yaitu sebagai pengasuh anak yang secara makro akan ikut menentukan generasi bangsa yang akan datang maupun secara mikro, ibu ikut menentukan ekonomi keluarga. Karena itu pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan ibu dan masa awal pertumbuhannya. Dengan demikian maka kesehatan bayi baru lahir kurang dari satu bulan (neonatal) menjadi sangat penting karena akan menentukan apakah generasi kita yang akan datang dalam keadaan sehat dan berkualitas serta mampu menghadapi tantangan globalisasi. Atas dasar pemikiran itu maka upaya untuk meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal menjadi sangat strategis bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Keberhasilan upaya tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal). Menkes mengakui, saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia tahun 2003 turun dua peringkat dibandingkan tahun 2002 yakni menempati urutan ke 112 dari 175 negara-negara di dunia dan berada jauh dibawah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam. Menurut Dr. Ieke Irdjiati, MPH Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, sesungguhnya tragedi kematian ibu tidak perlu terjadi karena lebih dari 80% kematian ibu sebenarnya dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif, semisal pemeriksaan kehamilan, pemberian gizi yang memadai dan lain-lain. Karenanya upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan prioritas utama dalam pembangunan kesehatan menuju tercapainya Indonesia Sehat 2010. Mengenai penyebab kematian, Dr. Ieke menegaskan bahwa 90% kematian ibu disebabkan oleh pendarahan, teksemia gravidarum, infeksi, partus lama dan komplikasi abortus. Kematian ini paling banyak terjadi pada masa sekitar persalinan yang sebenarnya dapat dicegah. Seminar "Pendekatan dan Praktik Terbaik Kesehatan Maternal dan Neonatal" diikuti 500 peserta dari Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se Indonesia, Organisasi Profesi, kalangan perguruan tinggi, stakeholder terkait lainnya baik dari LSM dan organisasi masyarakat. Topik-topik yang dibahas dalam seminar yang berlangsung selama 5 hari ini antara lain pengembangan pelayanan dan pelatihan Asuhan Persalinan Normal yang berkualitas, penguatan praktik klinik pada mahasiswa di Prodi Kebidanan, Kemitraan bidan - dukun, pengembangan desa SIAGA, promosi kesehatan bayi baru lahir dan bagaimana memobilisasi masyarakat untuk Stop Kematian

0 comments:

Blog Archive

Pesan Kesan